Rahasia I’rab Al-Qur’an: Mengapa "As-Sabi’un" (وَالصَّابِئُونَ) di Surah Al-Ma’idah Berbeda Sendiri?


Dalam membaca Al-Qur'an, kita mungkin pernah menyadari adanya perbedaan penyebutan kata yang sama dalam konteks yang mirip. Salah satu yang paling menarik adalah perbandingan antara Surah Al-Baqarah ayat 62 dan Surah Al-Ma’idah ayat 69.

Perbandingan Visual Ayat

Jika kita perhatikan gambar mushaf yang ada:

  1. Surah Al-Baqarah: 62: Tertulis "وَالصَّابِئِينَ" (Waṣ-Ṣābi’īna). Secara kaidah Nahwu, ini adalah bentuk yang umum karena kata tersebut mengikuti (athaf) kepada kata sebelumnya yang berstatus manshub setelah partikel "Inna".

  2. Surah Al-Ma’idah: 69: Tertulis "وَالصَّابِئُونَ" (Waṣ-Ṣābi’ūna). Di sini, kata tersebut menggunakan bentuk marfu’ (dengan huruf wawu), padahal posisinya masih berada dalam rangkaian kalimat yang diawali "Inna".

Mengapa terdapat perbedaan I'rab yang mencolok ini?

Tafsir Balaghah Ibnu ‘Asyur

Syaikh Ibnu ‘Asyur dalam analisisnya menjelaskan bahwa perubahan tata bahasa ini bukanlah tanpa alasan. Beliau menyebutkan bahwa ada Faidah Balaghiyah (manfaat keindahan bahasa) yang sangat dalam di balik penggunaan bentuk rafa' pada kata As-Sabi’un di Surah Al-Ma'idah.

Beliau menjelaskan bahwa secara bahasa, penggunaan rafa' di tengah kalimat yang seharusnya nashab terasa "asing" atau "aneh" di telinga pembaca. Hal ini sengaja dilakukan untuk menghentikan perhatian pembaca agar bertanya-tanya: "Mengapa kata ini dibaca berbeda?".

Keajaiban Makna: Rahasia di Balik "Keanehan" Gramatikal

Jawaban atas pertanyaan tersebut sungguh menyentuh sisi ketauhidan kita. Ibnu ‘Asyur mengungkapkan dua poin utama:

  • Kesesuaian dengan Kondisi Kaum Shabi’un: Keasingan bentuk rafa’ tersebut sesuai dengan "keasingan" masuknya kaum Shabi’un ke dalam janji ampunan Allah. Mengingat mereka adalah penyembah bintang, secara logika manusia, mereka adalah kelompok yang paling jauh dari petunjuk dibandingkan Yahudi dan Nasrani.

  • Menegaskan Keagungan Ampunan Allah: Karena posisi mereka yang sangat jauh dari hidayah, kaum Shabi’un mungkin merasa hampir putus asa dari rahmat Allah. Namun, Al-Qur'an menggunakan struktur bahasa yang unik ini untuk memberi penekanan khusus (tanbih) bahwa ampunan Allah itu sangat agung.

Rahmat Allah mencakup siapa saja yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, bahkan bagi mereka yang sebelumnya berada dalam kesesatan sejauh kaum Shabi’un.

Kesimpulan 

Perbedaan satu huruf antara Ya' (pada As-Sabi’ina) dan Wawu (pada As-Sabi’una) bukan sekadar urusan tata bahasa. Ia adalah pesan cinta dari Allah bahwa pintu taubat-Nya jauh lebih luas dari dosa-dosa hamba-Nya.

Bagi kita, khususnya kader BKPRMI Sambaliung, ini adalah motivasi untuk terus memperdalam ilmu bahasa Arab. Sebab, dengan memahami I'rab, kita bisa menangkap rahasia-rahasia yang tersimpan dalam setiap ayat suci Al-Qur'an.


Oleh: Sahrul Anam/LPPTKA DPK BKPRMI Sambaliung
Sumber Utama: Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir karya Syaikh Ibnu ‘Asyur.